“Miss, Si A Melanggar Norma…”
Hari ini di sekolah, saya makan siang di kantin bersama guru kelas 3. Ketika saya masih makan, ada beberapa siswa kelas 3 yang sudah selesai makan dan menghampiri guru kelas 3 tersebut, yang duduk di sebelah saya.
Lalu tiba-tiba mereka bilang, “Miss, Si A melanggar norma…” Saya pun heran. Hebat sekali anak-anak ini, hari gini membicarakan norma. Memangnya si A berbuat apa ya?
Guru kelas 3 tersebut lalu bertanya pada anak-anak tersebut, “Ada apa? Norma apa yang dilanggar si A”
“Itu Miss, Si A melanggar norma agama dan norma kesopanan.”
Saya masih berpikir, memangnya si A melakukan apa sih?
“Si A berbuat apa?” kata gurunya
“Si A tadi teriak-teriak ke guru, Miss. Itu kan melanggar norma agama dan norma kesopanan.”
Wah, ternyata anak-anak ini ketika belajar PKn tentang norma tidak hanya belajar saja, tetapi juga memaknai arti dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Salut sama Miss yang satu ini.
Lalu saya bilang, “Hebat sekali mereka Miss, benar-benar paham dan mengaplikasikan pelajaran PKn dalam kehidupan sehari-hari.”
Si guru kelas 3 ini senyum, kemudian bilang, “Hehe, memang mereka begitu, Miss. Kemarin materi PKn adalah harga diri. Saya contohkan ke mereka contoh harga diri adalah percaya bahwa diri sendiri itu mampu, jadi orang yang punya harga diri tidak akan pernah mencontek.”
“Terus?”
“Eh, setelah itu ketika ada yang mencontek, mereka pasti bilang: Miss, Si I tidak punya harga diri tuh, Miss. Masa dia mencontek.”
)
Pantun Tentang Mansya
Di sekolah hari ini (eh kemarin ding, hari ini mah libur :p) materi Bahasa Indonesia di kelas 4 adalah membuat pantun.
Oh iya, sebenarnya saya bukan lagi guru Bahasa Indonesia di kelas 4. Tapi gurunya yang sekarang selalu menceritakan kejadian-kejadian menarik ketika pelajaran berlangsung, jadi saya tidak ketinggalan info terbaru, hehehe.
Ketika sudah dijelaskan sedikit tentang pantun oleh guru, lalu para siswa mencoba mengarang pantun mereka sendiri. Pantun yang mereka buat harus bertema religi, pendidikan, atau persahabatan. Beberapa anak menulis pantun dengan benar, dengan aturan pantun yang tepat. Beberapa contoh pantun yang mereka buat adalah:
pantun pendidikan:
Ada anak berkulit putih
Baik hatinya cantik orangnya
Ayo kita rajin ke sekolah
Jangan lupa ambil ilmunya
pantun religi:
Sekolahku sangat bermutu
Namanya Sekolah Mega
Salatlah kamu lima waktu
Agar kamu masuk surga
Hebat kan, siswa kelas 4 bisa bikin pantun seperti itu. Siapa dulu gurunya… bukan saya… hehehe
Nah, beberapa pantun lain, meskipun secara aturan membuat pantun benar, tapi kok ya lucu. Saya pun langsung terbahak membacanya. Dalam pantun-pantun tersebut, jiwa anak-anaknya terasa sekali. :)
pantun persahabatan:
Jalan-jalan ke Pekanbaru
Jangan lupa melihat Obama
Kalau anda punya teman baru
Jangan lupa teman yang lama
Lah, ke Pekanbaru kok lihat Obama
)
pantun persahabatan:
Aku nonton film, judulnya Kebat
Bertemu teman namanya Mansya
Aku punya sahabat yang hebat
Ternyata dia Mansya
Ini sampirannya terlihat maksa ya? Memangnya ada film dengan judul Kebat? Lalu Mansya di bagian sampiran pantun apakah sama dengan Mansya di bagian isi pantun? Entahlah, hal ini masih menjadi misteri.
hahaha
*ah, saya jadi kangen mengajar bahasa indonesia di kelas ini :’)*
Gara-gara Pisang
Hari ini di sekolah, menu makan siang para guru adalah udang goreng tepung, sayur, oseng-oseng tahu, dan buah pisang. Seperti biasa kami, para guru, makan bersama para murid di kafetaria. Hari ini saya duduk bersama para boys kelas 3 yang memang seru banget kalau cerita.
Ketika saya makan, ada seorang murid yang melihat makanan saya. Sebut saja namanya Rafi.
Rafi: “Miss, itu apa?”
Saya: “Ini kan pisang.”
Rafi: “Kok warnanya hijau? Berarti masih mentah ya?”
Saya: “Belum tentu.”
Murid lain: “Iya, dong Miss. Buah yang berwarna hijau itu kan berarti masih mentah.”
Murid lain lagi: “Iya, jadi pisang itu kan nggak manis.”
Saya: “Hmm, kamu pernah lihat mangga yang warnanya hijau?”
Murid lain: “Pernah”
Saya: “Nah, mangganya manis nggak?”
Murid lain: “Manis sih…”
Saya: “Tuh kan. Sama. Pisang ini juga pasti rasanya manis, seperti mangga itu.”
Murid-murid saya tertawa.
Saya: “Terus, kalian pernah lihat Miss Eka?”
Murid-murid: “Pernah lah.”
Saya: “Nah, sekarang Miss Eka pakai baju apa?”
Murid-murid: “Hijau.”
Saya: “Berarti Miss Eka juga manis.”
Murid-murid: “Yaaaahhhhhh….”
hahahaha…
*disclaimer: Setelah percakapan ini, kafetaria masih bersih. Sama sekali tidak ada murid yang jackpot.
)*
Pancasila
Di sekolah hari ini, sedang ada ujian semester. Lagi-lagi, ada kejadian lucu lagi di kelas 4. Dan pelakunya pun masih sama seperti postingan sebelum ini.
)
Selesai ujian bahasa Indonesia, guru kelas 4 — yang juga mengajar PKn di kelas itu — cerita bahwa ketika ujian PKn, ada soal tentang Pancasila. Jadi para siswa harus menuliskan kelima sila Pancasila.
Rupanya ada satu anak yang menulis:
1. Ketuhanan yang maha esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Menguasai informasi dan teknologi.
Ada yang aneh?
Iya, yang nomor 5 itu adalah ”Tujuan Kita”-nya MH. Entah si anak lupa atau khilaf atau lagi ngantuk atau memang terlalu cinta sama sekolahnya.
)
Tentang Cerita Gajah dan Semut
Di sekolah hari ini, ada kejadian lucu.
Ceritanya, saya dan anak kelas 4 sedang belajar bahasa indonesia. Materinya sedang belajar melanjutkan cerita. Cerita yang ada di buku teks berjudul …. mm, berjudul…. *maaf, ternyata saya lupa.
)
Pokoknya inti ceritanya itu tentang seekor gajah yang sombong karena ia bertubuh besar. Ia selalu menyombongkan dirinya di hadapan teman-temannya, terutama para semut yang berbadan kecil. Sampai suatu ketika, ia bermaksud untuk merobohkan pohon tempat tinggal para semut. Tapi ternyata ketika pohon tersebut tumbang, serpihan-serpihannya mengenai badan si gajah. Nah, para siswa harus melanjutkan apakah si gajah mau mengalahkan egonya dan meminta bantuan semut (dengan syarat gajah harus mengantar semut ke daerah baru); atau membiarkan badannya gatal dan perih terkena serpihan pohon.
Sebagian besar siswa kelas 4 meneruskan cerita dengan: si gajah akhirnya menyesal dan meminta maaf, lalu meminta tolong kepada semut untuk mengambil serpihan-serpihan kayu di badannya.
Tapi beberapa anak, mengimajinasikan hal yang berbeda. Ada yang membiarkan sang gajah terus berlaku sombong hingga akhirnya mati karena tak tahan dengan gatal dan perihnya. Ada lagi yang paling lucu, salah satu anak kelas 4 ini ada yang menggambarkan si gajahnya bingung; mau membiarkan badannya perih dan gatal atau mau meminta bantuan semut. Terus saking bingungnya, si gajah ini terus berpikir sampai 1 tahun. Hahaha, kasian ih, sudah kegatalan sampai 1 tahun, baru akhirnya minta bantuan semut.
Ini salah satu yang saya suka dari mengajar Bahasa Indonesia. Saya jadi semakin menyadari bahwa anak-anak SD yang polos, tenyata banyak yang mempunyai imajinasi yang luar biasa.
Selamat Hari Guru!
Selamat Hari Guru, buat para guru di seluruh Indonesia…
Hari ini adalah hari guru di Indonesia. Semoga para guru di Indonesia senantiasa dilimpahkan kesabaran, keikhlasan, dan segala macam kebaikan. amiin.
Kali ini saya tidak akan banyak komentar tentang guru, khususnya guru di Indonesia. Saya cuma akan berbagi tentang peringatan hari guru yang tadi berlangsung di Mutiara Harapan.
Oh iya, sebelumnya saya mau memberikan tautan dari twitter @paulocoelho, salah satu penulis yang saya kagumi: When You Thought I Wasn’t Looking.
Jadi ceritanya tadi pagi, sekitar pukul 6, saya baru ingat kalau hari ini adalah hari guru. Maka saya pun menanyakan kepala sekolah, kira-kira acara apa yang bisa kita lakukan di sekolah; sekadar berdoa bersama, atau apalah. Tapi beliau bilang, tidak usah buat acara, sepertinya teman-teman juga lupa.
Hmm, baiklah…
Lalu di sekolah, saya tanyakan lagi ke beliau. Jawabannya tetap sama. Hmm baiklah. Lagipula katanya hari itu akan ada rapat akreditasi, jadi memang kemungkinan nggak akan sempat buat acara-acara macam itu.
Lalu setelah salat dhuha berjamaah, tiba-tiba semua murid dikumpulkan di kelas P1A-P1B.
Ternyata, di sana para kepala sekolah dan murid-murid kelas P5, P6, dan grade 7 sudah mempersiapkan kejutan. Saya dan guru-guru lain benar-benar tidak tahu mengenai acara ini (Ibu kepsek pun, saya tanya malah jawabannya kayak di atas tadi… XD). Dan rapat akreditasi yang katanya akan diadakan tadi, ternyata cuma alasan untuk menutupi persiapan kejutan ini.
Para murid ada yang baca puisi, menyanyi, dan bercerita tentang guru-guru di MH. Oalah, jadi terharu saya :’) Mereka sampai menyiapkan video yang berisi foto para guru. Lucu. Mana ada chocolate cake gede banget, pula :9
Terima kasih buat Pak Rey, Bu Ita, Pak Rolland, Ms. Hanoum, Ms. Arinta, Ms. Widya, rekan-rekan guru dan semua murid-murid.
I love you, all :*
Hasil Tulisan Career Day
Saqila, murid Mutiara Harapan.
Saqila namaku, aku suka memasak, menggambar dan menulis. Qila nama panggilanku. Ibuku suka ngajarin aku menulis dan menggambar. Kalau ayahku suka ngajarin aku memasak. Lalu aku juga suka membaca buku. Aku suka sekali memasak, menulis, dan menggambar juga membaca.
Afini, murid Mutiara Harapan
Namaku Afini Rizkyana. Umurku 9 tahun. Aku menduduki kelas 4 SD di mutiara harapan islamic bilingual school. Cita-citaku menjadi penulis. Aku sika banget menulis cerita. Pengarang favoritku adalah JK Rowling. Itu lho, yang menulis novel Harry Potter. Ceritanya seru! Aku juga suka Enid blyton, penulis novel berseri 5 sekawan. Aku punya buku-bukunya. Aku baru punya 4 buah buku dan itu pun belum selesai kubaca. Habisnya tebal banget sih, halamannya (-_-)
Ria, murid SD Pondok Kacang Barat
Namaku Ria. Umurku 10 tahun. Aku kelas 5. Aku senang menulis cerita. Terutama cerita pendek. Pada waktu kelas 3, aku mencoba menulis tentang binatang. Aku selalu gagal. Tetapi, mama dan papaku bilang padaku bahwa aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku mencoba menulis tetapi aku gagal lagi. Aku berusaha, agar aku bisa menulis cerita tersebut. 30 menit telah berlalu. Akhirnya aku bisa menuliscerita tersebut. Aku sangat senang. Mama papaku pun ikut senang. Pada saat itulah aku mulai menyukai menulis. Walaupun aku sering menemukan kesulitan, tetapi mama dan papaku selalu setia membantuku. Mama dan papa pernah bilang, jangan pernah menyerah sebelum mencoba.
Career day
Beberapa hari lalu, di sekolah saya ada acara career day. Sesuai namanya, acara ini bertujuan untuk mengenalkan beragam profesi kepada anak-anak. Tahun ini, tema “career day” adalah ‘my hobby is my career’. Jadi ragam profesi yang hadir adalah profesi yang beranjak dari hobi yang memang sering dilakukan anak, seperti penari, penyanyi, penulis, pecatur, dan pesulap. Awalnya, kami juga ingin menghadirkan fotografer, tapi saat itu tidak ada fotografer yang bisa hadir.
Di postingan kali ini, saya tidak akan bercerita banyak tentang career daynya,karena saya tidak tahu persis rangkaian acaranya. Sepanjang acara, saya hanya *nongkrong* di bagian penulis, jadi saya tidak tahu seperti apa acara di profesi yg lain
)
Di tempat penulis, alhamdulillah acaranya lancar. Tadinya saya kira, peminat profesi ini tidak terlalu banyak, tapi ternyata banyak juga.
Di akhir acara, tiap anak harus menulis sesuatu tentang diri mereka masing-masing. Ternyata hasilnya lur biasa. Anak-anak yg masih kelas 3-6 SD tersebut ternyata sudah mampu menuangkan pikirannya lewat menulis. Beberapa contohnya akan saya tuliskan di postingan berikutnya.
Guru galak?
Hari ini di sekolah, saya mulai merasa sedikit putus asa. Pasalnya, saya kini menjadi guru kelas 3. Bayangkan saja, saya yang cenderung tidak sabaran, harus bersabar mengajar -dan terutama mendidik- anak-anak yang masih semaunya sendiri, dan belum bisa diajak berpikir dewasa *yaiyalah*
Bukan berarti saya ‘mengecilkan’ mereka, tapi memang berdasarkan teori perkembangan, usia mereka memang masih usia anak-anak yang lebih suka bermain-main dibandingkan melakukan hal-hal lainnya.
Nah, hal ini yang membuat saya agak kewalahan. Saya yang biasanya mengajar anak-anak remaja: SMA, SMP, dan terakhir ketika pertama kali mengajar di sekolah ini kelas 5 SD; sekarang berhadapan dengan anak-anak kelas 3 SD.
Namanya juga anak-anak, ada saja hal-hal yang mereka ketika saya mengingatkan bahwa waktu istirahat sudah habis, mereka menolak. “belum, miss. istirahatnya baru sebentar”. Ketika waktu sholat, “nanti, miss”. Ketika guru sedang menjelaskan, mereka masih suka main-main semaunya sendiri. Sampai-sampai beberapa guru yang mengajar di kelas bertanya, “miss Eka, bagaimana sih cara supaya enak mengajar di kelas 3? supaya murid-muridnya fokus ketika pelajaran?”
Bila mereka seperti itu, selalu saya tegaskan. Bukan bermaksud galak, tapi memang ini waktunya anak-anak untuk berdisiplin pada waktu, juga untuk mulai menghormati orang yang sedang bicara, apalagi jika yang bicara adalah gurunya.
Sebenarnya, ketika saya mengajar di kelas-kelas atas (SMA, SMP, atau kelas 5 Sd kemarin) murid-muridnya juga masih suka bereaksi seperti itu: masih mau main lah, masih suka bercanda saat guru menjelaskan lah, masih suka menolak ketika sudah waktunya sholat lah. Tapi karena mereka sudah besar, mereka sudah lebih mengerti. saya ingatkan sedikit (kadang-kadang saya tegaskan sedikit :p), mereka sudah mengerti bahwa mereka memang harus disiplin, hormat pada orang lain, dan itu memang kewajiban mereka.
Nah, di kelas 3 ini, seringnya tidak bisa jika hanya saya ingatkan. Saya harus lebih tegas pada mereka. Tegas di sini, bukan berarti saya main kasar, tapi mengenaskan nada bicara saya sehingga mereka mengerti bahwa yang saya katakan memang kewajiban mereka. Saya juga masih harus berulang-ulang menjelaskan: “kalau kalian sholat, gunanya apa? pahalanya untuk siapa?” atau “kalau kalian sedang bicara, tapi tidak dihiraukan oleh orang yang kalian ajak bicara, rasanya bagaimana?”
Begitulah.
Bukan berarti saya tidak suka, sebaliknya saya suka karena pada dasarnya saya sangat suka anak-anak. Dan dengan menjadi guru kelas mereka, saya berharap bisa mendidik mereka sehingga kelak mereka menjadi manusia yang baik, disiplin, dan bertanggung jawab.
Masalahnya adalah saya masih harus terus belajar bagaimana bentuk tegas yang lain. Maksudnya, bagaimana saya bicara biasa tapi anak-anak mengetahui bahwa apa yang saya katakan serius karena tindakan tegas saya rupanya membuat mereka berpendapat saya galak
Dari mana saya tahu? Karena murid saya curhat ke guru yang sedang mengajar. Mereka bilang, “miss Eka itu kalau di luar kelas baik, tapi kalau di dalam kelas galaak banget.”
-_-”
NB: ternyata postingan ini mirip dengan postingan saya di: http://thejargon.multiply.com/journal/item/627/guru_yang_baik_guru_yang_benar
tangerang, ditulis beberapa hari sebelum puasa.
Tuhan tidak kesepian?
Di sekolah hari ini, kami sedang circle time, membahas Al-Quran. Mulai dari An-Nas, karena ini permulaan semester. Ketika sampai di surat Al-Ikhlas, yaitu surat yang membahas tentang keesaan Allah, rekan guru di kelas saya benar-benar menekankan bahwa Allah itu Esa, tidak beranak dan diperanakan (tidak punya anak, ayah, maupun ibu).
Lalu tiba-tiba ada anak murid saya yang tunjuk tangan. “Mister, saya mau tanya,” katanya.
“Ya, ada apa?” tanya guru kelasnya yang lain, rekan saya.
“Allah kan Tuhan. Jadi dia tidak punya keluarga, kan? Apa Allah tidak kesepian?”
#jleb
Saya langsung tercenung.
pasalnya, saya pun pernah menanyakan hal yang sama, yaitu apakah Tuhan, yang sendirian tidak kesepian?
Untung saja rekan saya bisa menjawabnya. Misternya bilang, Tuhan yang menciptakan perasaan-perasaan manusia. Tuhan memang menciptakan manusia sebagai makhluk yang akan merasa kesepian. Tetapi Tuhan berbeda. Tuhan tidak merasa segala rasa yang manusia rasa. Tuhan yang Esa, yang Kuasa, tidak akan pernah kekurangan suatu apa.
Saya hanya diam, sambil termenung sendiri. (Masih) berusaha memahami dalam hati bahwa Tuhan Maha Segalanya.
fyi, sekarang saya jadi guru kelas 3. jadi yang nanya ini barusan masih anak kelas 3 SD..



